aku tak tau harus menulis kalimat ini dari mana. Tapi aku
mempunyai banyak kalimat yang sudah lama ku pendam dan ingin ku ungkapkan,
hanya aku tak bisa menyampaikan smeua ini langsung padamu. Dan inilah aku..
sayang, kamu sadar apa yang telah kamu lakukan padaku?
Orang-orang bilang, “setiap yang namanya hubungan, pasti
akan menemui sebuah titik dimana mereka berbeda pendapat dan hubungan mereka
diuji kekuatannya”. Dan saati ini, kita. Kita diuji akan hal itu.
Malam itu kita bertengkar. Ini karena ke-egoisanmu dan
ke-egoisanku. Kita sama-sama tidak bisa melihat setuasi dan keadaan
masing-masing. kau terlalu berlebihan!
Sehari, dua hari berlalu, menginjak malam ketiga untuk
hubungan kita yang tidak ada ‘nafas’-nya. Sebelumnya pagi itu aku sudah membuat
pesan yang akan ku kirimkan padamu, tapi apa sayang? Pesan itu hanya berakhir
di-draft-ku. Aku tak sanggup untuk mengirim pesan itu padamu.
Orang-orang yang dekat denganku berkata aku terlalu sabar
menghadapimu. Aku terlalu memberimu kesempatan hingga kau tak perdulikan
perasaanku lagi. Dan mereka berkata aku harus tinggalkanmu. Aku tidak tau harus
berbuat apa.
Menuju malam ketiga itu, aku mendapat kabar bahwa kamu
akan pergi. Tanpa berfikir apa yang akan terjadi ke depannya aku langsung
membuka draft-ku dan mengirim pesan itu padamu. Respon mu lama sayang, dan aku
tak sabar. Aku menelponmu dan ku dengar di ujung telpon kau sedang tertawa
bersama teman-temanmu disana.
Kau tau sayang, malam itu aku bagaikan mainanmu. Sangat seperti
mainan:’) ditelpon itu kau bilang tidak bisa mengabariku selama 3 hari ke
depan. Dengan tegarnya aku berkata “tidak apa-apa, aku yakin kamu bisa. Bukankah
sudah 2 hari ini kita tidak saling memberi kabar” dengan nada tangisan yang ku
tahan. Dan kau hanya berkata “tak usah menangis”. Aku menjawab dengan tegas
bahwa aku tidak menangis. Tak lama telpon itu berakhir dengan akhir yang tak
jelas karena kamu sedang dijalan. Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan
jelas. Entah kamu.
malam itu, andaikan saja
pikiran tidak benar itu berhasil merasukiku, mungkin saat ini aku entah berada
dimana. Tapi sayang, aku bersyukur karena aku masih mempunyai sedikit kesadaran
hingga tak sampai melakukan itu.
Setelah telpon itu berakhir, aku menangis sayang, aku
menangisi mu, aku mengkhawatirkanmu. Tapi kamu? Tidak ada sedikit pun rasa
simpatimu, tidak ada sedikitpun rasa khawatirmu untukku. Dimana hatimu sayang? Dimana?
Dan sejak itu, aku berubah, aku akan belajar untuk tidak bergantung padamu
lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar