Jumat, 16 November 2012

Dimana hatimu sayang?


aku tak tau harus menulis kalimat ini dari mana. Tapi aku mempunyai banyak kalimat yang sudah lama ku pendam dan ingin ku ungkapkan, hanya aku tak bisa menyampaikan smeua ini langsung padamu. Dan inilah aku..

sayang, kamu sadar apa yang telah kamu lakukan padaku?
Orang-orang bilang, “setiap yang namanya hubungan, pasti akan menemui sebuah titik dimana mereka berbeda pendapat dan hubungan mereka diuji kekuatannya”. Dan saati ini, kita. Kita diuji akan hal itu.
Malam itu kita bertengkar. Ini karena ke-egoisanmu dan ke-egoisanku. Kita sama-sama tidak bisa melihat setuasi dan keadaan masing-masing. kau terlalu berlebihan!

Sehari, dua hari berlalu, menginjak malam ketiga untuk hubungan kita yang tidak ada ‘nafas’-nya. Sebelumnya pagi itu aku sudah membuat pesan yang akan ku kirimkan padamu, tapi apa sayang? Pesan itu hanya berakhir di-draft-ku. Aku tak sanggup untuk mengirim pesan itu padamu.

Orang-orang yang dekat denganku berkata aku terlalu sabar menghadapimu. Aku terlalu memberimu kesempatan hingga kau tak perdulikan perasaanku lagi. Dan mereka berkata aku harus tinggalkanmu. Aku tidak tau harus berbuat apa.
Menuju malam ketiga itu, aku mendapat kabar bahwa kamu akan pergi. Tanpa berfikir apa yang akan terjadi ke depannya aku langsung membuka draft-ku dan mengirim pesan itu padamu. Respon mu lama sayang, dan aku tak sabar. Aku menelponmu dan ku dengar di ujung telpon kau sedang tertawa bersama teman-temanmu disana.

Kau tau sayang, malam itu aku bagaikan mainanmu. Sangat seperti mainan:’) ditelpon itu kau bilang tidak bisa mengabariku selama 3 hari ke depan. Dengan tegarnya aku berkata “tidak apa-apa, aku yakin kamu bisa. Bukankah sudah 2 hari ini kita tidak saling memberi kabar” dengan nada tangisan yang ku tahan. Dan kau hanya berkata “tak usah menangis”. Aku menjawab dengan tegas bahwa aku tidak menangis. Tak lama telpon itu berakhir dengan akhir yang tak jelas karena kamu sedang dijalan. Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas. Entah kamu.

malam itu, andaikan saja pikiran tidak benar itu berhasil merasukiku, mungkin saat ini aku entah berada dimana. Tapi sayang, aku bersyukur karena aku masih mempunyai sedikit kesadaran hingga tak sampai melakukan itu.

Setelah telpon itu berakhir, aku menangis sayang, aku menangisi mu, aku mengkhawatirkanmu. Tapi kamu? Tidak ada sedikit pun rasa simpatimu, tidak ada sedikitpun rasa khawatirmu untukku. Dimana hatimu sayang? Dimana? Dan sejak itu, aku berubah, aku akan belajar untuk tidak bergantung padamu lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar